Pandji Pragiwaksono Dicecar 63 Pertanyaan Polisi Soal Mens Rea: Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Pandji Pragiwaksono Dicecar 63 Pertanyaan Polisi Soal Mens Rea: Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Bayangkan kamu lagi asyik nonton stand-up comedy di Netflix, tiba-tiba komikanya jadi berita utama karena dipanggil polisi. Itulah yang dialami Pandji Pragiwaksono baru-baru ini. Komika senior ini dicecar 63 pertanyaan polisi terkait special show-nya yang berjudul Mens Rea. Kasus ini langsung bikin heboh netizen, dari yang dukung kebebasan berekspresi sampai yang merasa materi itu kelewatan.

Pandji Pragiwaksono dicecar 63 pertanyaan mens rea ini terjadi pada 6 Februari 2026 di Polda Metro Jaya. Pemeriksaan berlangsung hampir 8 jam, dan ini berawal dari beberapa laporan dugaan penistaan agama. Tapi, apa sih sebenarnya isi Mens Rea yang bikin ramai? Dan bagaimana Pandji menanggapinya? Yuk, kita bahas pelan-pelan biar jelas.

Apa Itu Mens Rea dan Kenapa Bikin Kontroversi?

Spesial Show ke-10 Pandji Pragiwaksono “Mens Rea” Resmi Tayang di …

Mens Rea adalah special stand-up comedy ke-10 Pandji Pragiwaksono yang direkam live di Indonesia Arena Jakarta pada Agustus 2025, lalu tayang di Netflix akhir Desember 2025. Judulnya diambil dari istilah hukum Latin yang artinya “niat bersalah” – unsur penting dalam pidana untuk membuktikan seseorang sengaja melakukan kesalahan.

Di show ini, Pandji banyak bicara soal kritik sosial dan politik. Dia pakai analogi dan satire untuk bahas pemilihan pemimpin, kesehatan mental masyarakat, sampai hubungan ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah dengan politik praktis. Beberapa bagian dianggap menyentuh sensitivitas agama, misalnya narasi tentang orang yang rajin ibadah tapi punya niat tersembunyi, atau bagaimana suara pemilih “dibalas” dengan jabatan.

Bagi sebagian orang, ini komedi cerdas yang menyindir realita. Tapi bagi yang lain, ini dianggap merendahkan agama dan memicu kegaduhan. Akhirnya, ada lima laporan polisi plus satu aduan sejak Januari 2026, mostly soal dugaan penistaan agama dan penghasutan.

Kronologi Kasus: Dari Netflix Sampai Panggilan Polisi

Kasus ini mulai panas pasca Mens Rea tayang di Netflix. Potongan-potongan video dari show itu viral di medsos, meski versi resmi di Netflix utuh dan tanpa sensor berlebih.

Awal Januari 2026, beberapa kelompok melaporkan Pandji ke Polda Metro Jaya. Pelapor termasuk perorangan yang mengatasnamakan pemuda NU dan Muhammadiyah, tapi organisasi resminya bilang nggak ada laporan resmi dari mereka.

Pandji sempat datangi MUI untuk dialog, tapi tetap dipanggil polisi. Pada 6 Februari, dia datang ke Polda Metro Jaya didampingi kuasa hukumnya, Haris Azhar. Pemeriksaan dimulai jam 10.30 pagi dan selesai sekitar jam 18.30 malam.

63 Pertanyaan Polisi: Fokus ke Niat dan Latar Belakang

Yang bikin orang penasaran: apa aja sih 63 pertanyaan itu? Menurut Haris Azhar, pertanyaan penyidik mendalami:

  • Latar belakang penyusunan materi
  • Siapa yang bantu buat joke-jokenya
  • Tujuan penyampaian tema tertentu
  • Penyelenggaraan show, dari tiket sampai pemilihan judul

Penyidik juga perlihatkan potongan video dari medsos, bukan langsung dari Netflix. Pandji jawab semua dengan tenang, bahkan ada jeda buat salat.

Pasal yang disebut: 300 dan 301 KUHP (penghasutan), plus 242 dan 243 (penodaan agama) dari KUHP baru yang berlaku 2026. Ini pasal-pasal yang sering dipakai di kasus sensitif agama atau hasutan.

Pandji bilang dia pakai istilah Mens Rea untuk nunjukin benang merah niat jahat dalam cerita-cerita yang dia angkat, bukan untuk menyerang agama personally.

Respons Pandji: “Saya Nggak Merasa Menistakan Agama”

Usai pemeriksaan, Pandji kelihatan capek tapi tetap santai ngadepin wartawan. Dia tegas bilang:

“Saya nggak merasa melakukan penistaan agama. Materi ini murni komedi untuk kritik sosial, bukan hinaan.”

Dia juga buka pintu dialog dengan pelapor. “Kalau ada yang salah paham, mari kita ngobrol langsung,” katanya. Haris Azhar tambahin bahwa proses berjalan lancar dan Pandji kooperatif banget.

Pandji sendiri bilang show ini dibuat dengan hati-hati, bahkan konsultasi hukum biar nggak melanggar batas.

Pendapat Publik dan Pakar: Pro dan Kontra

Kasus Pandji Pragiwaksono dicecar 63 pertanyaan mens rea ini bikin masyarakat terbelah.

  • Dukungan untuk Pandji: Banyak netizen dan komika lain solidaritas. Mereka bilang komedi adalah ruang aman buat kritik, apalagi penonton bayar tiket dan tahu risikonya. Pakar seperti dari IKJ bilang stand-up itu intelektual, bukan sekadar hiburan.
  • Yang Kecewa: Sebagian merasa materi terlalu sensitif, apalagi menyentuh ormas besar. Mereka khawatir bisa memecah belah.

Pakar hukum bilang perlu analisis mendalam: apakah ini benar penodaan atau cuma satire? Komika lain seperti Bintang Emon pernah kena kasus serupa, tapi biasanya berakhir damai.

Media asing seperti BBC juga sorot ini, bahas batas kebebasan ekspresi di Indonesia.

Apa Selanjutnya untuk Kasus Ini?

Sekarang polisi lagi periksa ahli, termasuk ahli bahasa dan agama. Setelah itu, bakal ada gelar perkara untuk tentukan apakah naik ke penyidikan atau dihentikan.

Pandji bilang siap ikuti proses sampai akhir. Kalau dari sisi hukum, banyak yang prediksi ini bakal SP3 kalau nggak cukup bukti niat jahat.

Kasus ini juga bikin kita mikir: di mana batas antara komedi dan sensitivitas? Komedi memang sering nyentil, tapi di era medsos, satu joke bisa viral dan jadi masalah besar.

Kesimpulan: Komedi atau Kontroversi?

Intinya, Pandji Pragiwaksono dicecar 63 pertanyaan mens rea ini nunjukin betapa tipisnya garis antara kritik lewat komedi dan tuduhan penistaan. Pandji tetap tegar, publik terbelah, dan kasus masih berlanjut.

Yang jelas, Mens Rea berhasil bikin orang ngomongin isu-isu penting, meski caranya kontroversial. Kamu sendiri gimana? Sudah nonton show-nya belum? Kalau belum, coba deh, tapi siap-siap mikir keras setelahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *